Minggu, 06 April 2014

Panorama trawas

Trawas adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang berbatasan dengan Sidoarjo maupun Pasuruan, adalah lembah yang diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Welirang dan Penanggungan. Memasuki kawasan Trawas akan disuguhi keindahan bentangan alam dan kenyamanan udara pegunungan yang sejuk segar.

Di sela-sela keindahan alamnya itu tersimpan puluhan situs purbakala dari masa Mojopahit dan Airlangga yang menjadi saksi sejarah perjalanan sebuah bangsa.

Menginap di Trawas sangatlah mengasyikkan. Ada puluhan hotel dan vila yang bisa disewa di Trawas dengan berbagai pilihan harga sesuai kemampuan kocek kita, mulai dari kelas melati sampai bintang tiga, mulai harga perkamar Rp150 ribu hingga Rp400 ribu atau vila yang tarifnya jutaan rupiah mampu menampung puluhan orang.

Ada beberapa obyek wisata yang tersedia di Trawas, antara lain air terjun, bumi perkemahan, kolam renang, "playground", berkuda keliling villa, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), dan lain-lain.cBagi anda yang suka naik gunung tersedia rute pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng atau via Jolotundo.

Selain itu, di Trawas juga terdapat beberapa obyek wisata sejarah, antara lain situs Reco atau Arca Lanang – Reco Wadon yang diduga sebagai kawasan bengkel pembuatan patung batu pada masa Mojopahit, Candi Jolotundo yang merupakan petirtaan suci Raja Airlangga, dan kompleks candi (sedikitnya terdapat 14 candi) yang tersebar di lereng utara Gunung Penanggungan yang berhubungan erat dengan kepercayaan tentang Gunung Penanggungan yang disucikan.

Dan tak lupa, di Trawas juga terdapat dua pasar wisata yang menyediakan buah-buahan mulai durian, pisang beragam, bunga, ketela dan hasil bumi lainnya sebagai oleh-oleh wisata.

Wisata alam yang asri dan menawan, dilengkapi juga dengan air terjun, seperti halnya dengan air terjun Sedudo dan air terjun Coban Rondo, Air Terjun Dlundung juga sudah sangat dikenal oleh masyarakat Jawa Timur. Air Terjun Dlundung terletak di Dusun Ketapang, Desa Kemloko, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tepatnya di kaki Gunung Welirang. Berjarak 45 km dari Kota Malang dan 60 km dari Kota Surabaya. Air terjun ini bisa ditempuh selama 1,5 jam dari kota Surabaya.

Air Terjun Dlundung memiliki ketinggian sekitar 50-60 meter, tidak begitu tinggi memang, apalagi air yang jatuh dari atas tidak langsung sampai ke bawah namun air yang jatuh masih menyentuh tebing yang berundak sehingga air yang turun tidak begitu deras. Tapi jangan salah, air terjun ini tidak kalah indahnya dibandingkn air terjun lainnya. Aliran airnya yang lembut menjadi daya tarik tersendiri air terjun ini.

Air terjun ini terletak di kawasan yang memiliki luas 4,5 hektare. Karena letaknya yang berada pada ketinggian 760 meter dpl, membuat kawasan air terjun ini begitu sejuk. Banyak pasangan kekasih yang memanfaatkan kawasan air terjun ini untuk memadu kasih.

Pada hari biasa, objek wisata ini tidak begitu ramai, namun saat akhir pekan atau hari libur, kawasan ini dipadati oleh pengunjung. Di sini pengunjung bisa main basah - basahan ataupun berendam di bawah air terjun yang sangat dingin airnya.

Fasilitas yang ada di kawasan air terjun ini antara lain adanya area yang cukup luas untuk kegiatan outbound, mulai dari "fun game", jatuh bebas, jaring laba-laba hingga "flying fox". Area yang berupa lapangan ini dapat menampung sekitar 500-750 peserta.

Di sekitar area air terjun terdapat sebuah area perkemahan yang sering digunakan oleh para pecinta alam untuk camping atau mendirikan tenda. Terdapat 2 lokasi perkemahan di sini, pertama adalah lapangan di dekat loket pembelian tiket. Terdapat fasilitas kamar mandi dan beberapa warung makanan.

Sedangkan yang kedua berada di atas lokasi pertama yang bisa ditempuh selama 20 menit berjalan kaki dari lokasi pertama. Di lokasi camping yang kedua ini tidak ada kamar mandi, sehingga kalau kebelet harus rela berjalan kaki ke bawah dulu. Air terjun Dlundung sendiri berada tidak jauh dari lokasi perkemahan yang pertama.

Tiket masuk ke lokasi air terjun sebesar Rp3.500 per orang. Untuk parkir mobil 2.000 dan parkir motor 1.000 rupiah. Bila mengunjungi air terjun ini jangan lupa untuk membeli oleh-oleh berupa sayur mayur dan buah-buahan yang masih segar yang banyak dijajakan di sekitar air terjun.

"Makanya kita pilih pelatihan di Trawas," ucap Hani T, koordinator BKM (badan keswadayaan masyarakat) Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, yang bersama belasan anggota BKM dan faskel serta beberapa perangkat desa pelatihan sambil berwisata di Trawas.

Arca
Selain pemandian alias petirtaan peninggalan Airlangga dan Mojopahit yaitu Jolotundo yang lokasinya dekat dengan PPLH, sekitar Trawas juga terdapat Reco atau Arca Lanang adalah sebuah arca berbentuk laki-laki (Lanang, Jawa) yang terbuat dari batu andesit dan terletak di desa Kemloko, sekitar 40 Km dari kota Mojokerto. Arca ini memiliki tinggi 5,7 m dan merupakan gambaran dari salah satu Dhyani sang Buddha, yang absobnya menguasai arah mata angin timur.

Agama Budha Mahayana mengenal adanya beberapa bentuk Buddha yaitu Dhyani Bodhisatwa dan manusi Budhi. Dhyani Budha digambarkan dalam perwujudan Budha yang selalu bertafakur dan berada di langit. Dengan kekuatannya ia memancarkan seorang manusi Budha yang bertugas mengajarkan dharma di dunia.

Tugas manusia budha berakhir setelah wafat dan kembali ke Nirwana. Demi kelangsungan ajaran dharma, Dhyani Budha memancarkan dirinya lagi ke dunia yaitu ke Dhyani Boddhisatwa. Setiap jaman mempunyai rangkaian Dhyani Budha, Boddhisatwa dan Manusi Budha.

Reco Lanang ini terletak di lereng Gunung Butak. Jalan berbatu dan sedikit menanjak. Arca Lanang setinggi 5,7 m dan seberat 70 ton tersebut, dahulu dalam keadaan terlentang tidak terurus. Kini telah berhasil didirikan dan ditempatkan dalam sebuah cungkup sebagai pelindung yang dikerjakan selama 3 bulan dari bulan Januari sampai dengan Maret 1990, tepatnya tanggal 5 Maret.

Disebut Reco Lanang atau Reco Jaler artinya arca laki-laki Arca yang terbuat dari batu andesip ini merupakan gambaran dari perwujudan salah satu Dhani Budha yang disebut Aksobnya yang menguasai arah mata angin sebelah timur.

Agama Budha Mahayana mengenal adanya beberapa bentuk kebudhaan yaitu Dhyani Bodhisatwa dan manusi Budhi. Dhyani Budha digambarkan dalam perwujudan Budha yang selalu bertafakur dan berada di langit.

Dengan kekuatannya ia memancarkan seorang manusi Budha yang bertugas mengajarkan dharma di dunia. Tugas manusi budha berakhir setelah wafat dan kembali ke Nirwana.

Demi kelangsungan ajaran dharma, Dhyani Budha memancarkan dirinya lagi ke dunia yaitu ke Dhyani Boddhisatwa. Setiap jaman mempunyai rangkaian Dhyani Budha, Boddhisatwa dan Manusi Budha.

Sebenarnya, untuk masuk kawasan dan melihat dari dekat Reco lanang ini gratis, namun si penjaga atau karyawan yang berada di pintu masuk biasa minta pengunjung membayar "uang parkir" yang nilainya seiklasnya.(*)

Sabtu, 17 November 2012

SAMBANG DESO DI DESA KESIMAN KECAMATAN TRAWAS


Sambang deso kali ini Kamis 05 April 2012 giliran Desa Kesiman Kecamatan Trawas yang didatangi Bupati Mojokerto H. Mustofa Kamal Pasa, SE. didampingi oleh Kepala SKPD dan Muspida disambut dengan pertunjukan seni bantengan dan tari remo.

Dalam laporannya Kepala Desa Kesiman H. Suaedy Ghofar menyampaikan terima kasih kepada bupati atas perhatian dan bantuan fisik berupa jalan desa guna menunjang peningkatan perekonomian masyarakat.

Pengobatan gratis dan pelayanan KB gratis juga mewarnai kegiatan sambang deso. Dalam sambutannya, bupati menyampaikan bahwa prioritas utama adalah membangun infrastruktur berupa pelebaran jalan. Karena itu adalah pintu masuk utama bagi investor maupun wisatawan baik lokal maupun asing. Rp 365 juta dikucurkan untuk pembangunan jalan desa di Desa Kesiman. Melihat potensi desa, bupati berencana membangun Food Court yang representatif dengan kondisi bersih, indah, nyaman dan memiliki lahan parkir yang luas untuk pemberdayaan masyarakat Desa Kesiman. Sehingga potensi desa yang baik ini bisa berpeluang meningkatkan perekonomian di desa tersebut. Sambutan masyarakat yang antusias dan guyub ini membuat bupati bersemangat untuk menjadikan Desa Kesiman khususnya dan Kecamatan Trawas umumnya menjadi daerah yang terang benderang. 10 titik lebih dijanjikan untuk dipasang lampu di setiap dusun.

Di sektor kesehatan, bupati juga akan menambah fasilitas kesehatan berupa Puskesmas di Kecamatan Trawas.

Selesai memberi sambutan, bupati langsung berdialog dengan masyarakat secara langsung. Dan kali ini dibuat seperti root show. Puluhan masyarakat dari mulai usia sekolah sampai lansia ikut kebagian bincang langsung dengan bupati. Mereka menyampaikan uneg-unegnya sampai ada salah satu warga menyampaikan bahwa “baru kali ini ada bupati seperti Pak Mustofa, yang peduli keluhan wong cilik dan turun langsung ke desa”. Melihat model dialog seperti ini, masyarakat langsung berebut ingin mendekati bupati.

Di akhir sesi dialog, bupati memberikan tanggapan atas aspirasi warga tersebut dan akan dikoordinasikan dengan instansi terkait. Acara ditutup dengan doa. (Bagian PDE-Humas Protokol)

Jumat, 06 Juli 2012


SALAK RANUBAYA ASLI TRAWAS

SALAK dikenal wisatawan asing dan masyarakat Indonesia sebagai buah asli Indonesia. Berdasarkan kultivarnya, di Indonesia tersurat memiliki 20 sampai 30 jenis. Jenis terpopuler adalah Salak Pondoh dari Sleman – Yogyakarta. Sedangkan Salak Sidimpuan dari Sumatera Utara, Salak Condet dari Jakarta, dan Salak Bali dari Pulau Bali menmpati peringkat populer kedua.
Kepopuleran buah berdaging putih yang dibungkus kulit bersisik itu, karena rasanya yang manis. Penyajiannya dapat beragam, sebagai buah-buahan umumnya atau manisan. Keistimewaan lainnya, dapat dimanfaatkan sebagai pertolongan pertama penderita diare, khususnya yang kemampoh (setengah matang).
”Kandungan vitamin Ranubaya yang lebih istimewa dari Salak Pondo, yang meyakinkan saya akan peluang pasarnya.Salah satunya kadar vitamin C-nya yang sangat tinggi dan bermanfaat untuk menjaga stamina,” kata bapak dari dua orang anak ini.
Pengetahuan tentang tingginya kadar vitamin itu, diakui, didapat dari hasil riset bersama Univ. Surabaya (Ubaya). Salak yang tumbuh subur di lereng Penanggungan dan Welirang ini, ideal dinikmati sebagai kudapan buah atau manisan.
Strategi yang disiapkan dalam membuka peluang pasarnya, adalah menyempurnakan master plan Trawas Raya sebagai area wisata pilihan utama di Jawa Timur. Targetnya setahun ke depan, Trawas tidak lagi menjadi daerah wisata alternatif setelah Batu dan Prigen Raya. Keindahan panorama alam Trawas yang akan dimanfaatkan sebagai modal utama. Keindahannya tak kalah dengan Bali, apalagi wisata yang dapat disiapkan sangat variatif. Misalnya wisata air terjun Dlundung dan Putuk Truno, wisata religi di Jolotundo yang airnya terbaik di dunia dan memiliki kemampuan pengobatan segala penyakit. Hingga wisata out-bound di lereng Penanggungan dan Welirang,
Membalik Tangan
Mendongkrak citra Trawas dan mempoopulerkan Salak Ranubaya, diprediksi alumnus APDN Angkatan 20 ini, tidak semudah membalik tapak tangan. Karena itu, ia berharap kepimpinannya di Trawas didukung oleh semua kompoten masyarkat yang jadi kolega kerjanya. ”Tanpa dukungan masyarakat, saya yakin sampai kapanpun keistimewaan strategi saya tidak akan menghasilkan apap pun,” ujar pria berusia 39 tahun ini.
Jabatan Camat yang disandangnya saat ini, tak dipungkiri, tidak membuatnya bangga dan senang. Jabatan tersebut merupakan amanat Allah yang harus dipegangnya secara hati-hati. Sebab tanggungjawab ke depannya berat. Ia harus mempertanggungjawabkan di dua tempat. Di dunia pada Bupati dan diakherat kelak pada Allah.
Dengan beban religius yang membentengi sepak-terjangnya sebagai eksekutif pemerintahan yang langsung bertemu masyarakat, maka suami dari Rahmi Wijayati SSos MM (salah satu Kabid di Dispenda Kota Mojokerto) ini populer sebagai seorang pribadi yang familier. Bahkan, penghobi tanaman hias anthurium ini sangat keras dalam mengendalikan dan mendidik psikologisnya. Salah satunya diaplikasikan dalam prinsip anti feodalisme.
”Sikap feodal itu tinggalan penjajah untuk memecah-belah bangsa Indonesia, buat apa saya mempertahankan. Selain itu, feodalisme sangat ditentang agama yang saya peluk,” katanya terkekeh.
Prinsip itu tercermin dari gaya kepemimpinannya yang mulai diterapkan di Kecamatan Trawas. Ia mengusung managemen horizontal yang ngetren di perusahaan-perusahaan multinasional. Menurut ia, managemen ini sangat pas dalam mengelola sistem manajemen kepemerintahan. Pasalnya akan mempermudah terjadinya komunikasi antara pimpinan dan pembantunya, tanpa dibatasi medium bahas, tempat, kondisi, dan waktu

Kamis, 14 Juni 2012



Sumber Mata Air Trawas Bakal Diselamatkan
KOMPAS.com — Sumber mata air di Kecamatan Trawas yang terancam akibat relatif padatnya bisnis vila dan penginapan yang tersebar di Desa Trawas, Kasiman, Ketapanrame, dan Tamiajeng akan diselamatkan. 

Hal tersebut dikemukakan Sanadi, dari organisasi pecinta lingkungan Wehasta, Minggu (4/10). Ia menyebutkan bahwa sebuah kesepakatan antara petani, pemilik vila, tokoh masyarakat dan agama, serta aparat pemerintah tentang konservasi sumber daya air telah dibuat.

"Dasar kegiatan ialah untuk penyelamatan sumber mata air berbasis budaya lokal untuk mengurangi angka kemiskinan," kata Sanadi. Kesepakatan tersebut dibuat di lokasi Wehasta di Dusun Kemloko, Desa Trawas, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (3/10).

Dalam kesepakatan tersebut, kegiatan yang akan dilakukan ialah menghidupkan bank benih (pertanian, peternakan), penghijauan, pariwisata, pertanian organik, dan pasar rakyat.

Selasa, 29 Mei 2012

Trawas adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, Indonesia yang terkenal berhawa sejuk. Di daerah ini banyak terdapat villa dan [[hotel] dan dekat dengan salah satu tempat wisata petualangan di Jawa Timur

klik link di bawah jika untu rute perjalanan
http://maps.google.co.id/maps?f=d&source=s_d&saddr=Surabaya,+Jawa+Timur&daddr=-7.6542399,112.68771+to:-7.632054,112.604141&geocode=FbLGkP8dvjC4Bil_xBo4-PvXLTFAvlLjdnoCAw%3BFaE0i_8dXnq3BinPclmFwNnXLTFgFxy4dnoCEw%3BFUqLi_8d7TO2Bg&aq=&sll=-7.476857,112.663422&sspn=0.688973,0.883026&vpsrc=0&hl=id&mra=pr&ie=UTF8&t=m&z=10&via=1&layer=c&ei=16SgT_umL-SjiAebv9AM&pw=2
 Di trawas banyak juga terdapat villa, hotel dan tempat wisata serta di suguhi dengan pemandangan yang indah.


Selain terdapat banyak villa dan hotel juag terdapat wisata alam seperti :
1. GUNUNG PENANGGUNGAN

gunung welirang dan kecamatan trawas dari puncak penanggungan.very very beautiful
AIR TERJUN DLUNDUNG
PPLH SELOLIMAN

Kawasan Wisata Trawas

Hotel di Trawas

Trawas, merupakan sebuah kecematan di kabupaten Mojokerto, Provinsi Indonesia.
Memiliki lembah yang diapit dua gunung, yaitu Gunung Weliherang dan Penanggung, memasuki lembah ini anda akan disuguhkan keindahan alam dan kenyamanan udara pegunungan yang sejuk dan segar. Selain keindahan alam dan kenyamanan udaranya, Trawas juga memiliki puluhan peninggalan-peninggalan purbakala dari Masa Majapahit dan Airlangga yang menjadikannya saksi sejarah sebuah perjalanan bangsa.
puluhan hotel berdiri di tempat ini, Mulai dari Hotel Bintang 1 di Trawas sampai dengan Hotel Bintang 3 di Trawas, kompleks villa yang bisa menjadi tempat peristirahatan dan berbagai sarana rekreasi keluarga telah menghiasi lembah subur nan indah itu, berbaur ramah dengan perkampungan penduduk dan hamparan sawah warga desa. Menjadikannya mengasyikan menginap di salah satu Hotel di Trawas ataupun villa yang ada di Trawas.
Ditemukan 2 hotel di kawasan Trawas.

Hotel Grand Trawas

Hotel Grand Trawas terletak 50 menit dari Bandara Internasional Juanda, yang merupakan bandara terdekat dari hotel. Beberapa tempat menarik yang terletak dekat Lokasi Hotel Grand Trawas di Jawa Jolo Tundo, Candi Jawi, Reco Lalang dan Taman Safari.Salah satu tempat yang para tamu dapat mengunjungi dari Lokasi Hotel Grand Trawas di Jawa adalah Candi Jawi Candi di Jawa.Candi ini dibangun oleh Kertanegara pada abad ke-13.The Candi Jawi Candi di Jawa dipersembahkan kepada dewa Hindu seperti Brahma, Durga, Ganesha dan lain-lain. Fasilitas hotel-hotel berbintang Indonesia juga semakin ketat berkompetisi dalam mengakomodasi tiap kebutuhan dan keinginan kustomer. Dari fasilitas MICE, akses wi-fi, ball…
Trawas,Mojokerto

Hotel Vanda Gardenia

Hotel Vanda Gardenia  terletak 60 menit dari bandara dan hanya 60 km (37 mil) dari dari pusat kota.Fasilitas yang tersedia adalah kolam renang, lapangan tenis, tenis meja, warnet, restoran, ruang pertemuan besar, kolam pemancingan, dan banyak lainnya.Ada air terjun di dekatnya, hiking ke gunung tropis, bermain golf dekat hotel, mengunjungi gunung suci, kunjungi cadangan satwa liar, menunggang kuda, perjalanan ke situs Mojopahit (kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia's) Dari Bandara Surabaya., Fasilitas hotel-hotel berbintang Indonesia juga semakin ketat berkompetisi dalam mengakomodasi tiap kebutuhan dan keinginan kustomer. Dari fasilitas MICE, akses wi-fi, ball room. Juga mengunggulkan keunikan dan pesona tersendiri tanpa meninggalakan…
Jl.Raya Trawas

Trawas adalah lembah yang diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Welirang dan Penanggungan. Memasuki kawasan lembah ini kita akan disuguhi keindahan bentangan alam dan kenyamanan udara pegunungan yang sejuk segar. Dan di sela-sela keindahan alamnya itu tersimpan puluhan situs purbakala dari masa Mojopahit dan Airlangga yang menjadi saksi sejarah perjalanan sebuah bangsa.

Sejak awal dekade 80-an kawasan Trawas telah menjadi incaran investor dan orang-orang kaya kota untuk dijadikan tempat peristirahatan/ villa dan hotel. Dan dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun kemudian puluhan hotel, kompleks villa dan berbagai sarana rekreasi keluarga telah menghiasi lembah subur yang indah itu, bergandengan secara harmonis dengan perkampungan penduduk dan hamparan sawah warga desa. Hijau hamparan sawahnya berpadu dengan teduh pepohonan hutan dan benderang lampu hotel, villa dan rumah warga menghiasi lereng-lereng gunungnya.

Menginap di Trawas sangatlah mengasyikkan. Ada puluhan hotel dan villa yang bisa disewa dengan berbagai pilihan harga sesuai kemampuan kocek kita, mulai dari kelas melati sampai bintang tiga. Jika kita ingin jalan-jalan berwisata, ada beberapa obyek wisata yang tersedia, antara lain air terjun, bumi perkemahan, kolam renang, playground, berkuda keliling villa, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), dan lain-lain. Bagi anda yang suka naik gunung tersedia rute pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng atau via Jolotundo. Selain itu juga terdapat beberapa obyek wisata sejarah, antara lain situs Reco Lanang – Reco Wadon yang diduga sebagai kawasan bengkel pembuatan patung batu pada masa Mojopahit, Candi Jolotundo yang merupakan petirtaan suci Raja Airlangga, dan kompleks candi (sedikitnya terdapat 14 candi) yang tersebar di lereng utara Gunung Penanggungan yang berhubungan erat dengan kepercayaan tentang Gunung Penanggungan yang disucikan. Dan tak lupa, di Trawas juga terdapat dua pasar wisata yang menyediakan buah-buahan, bunga, ketela dan hasil bumi lainnya sebagai oleh-oleh wisata.

Akses menuju Trawas

Untuk mencapai lembah Trawas banyak rute yang bisa kita tempuh:

· Jika ditempuh dari Mojokerto kita bisa lewat rute Pacet – Claket – Trawas, atau bisa lewat rute Mojosari – Trawas. Kedua rute ini berjarak sekitar 40 kilometer dari Mojokerto.

· Jika dari Surabaya kita bisa lewat rute Krian – Mojosari – Trawas, atau lewat rute Sidoarjo – Gempol – Mojosari – Trawas, atau bisa juga lewat rute Pandaan – Prigen – Trawas. Ketiga rute ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Surabaya.

· Jika dari arah Pasuruan dan kota-kota di wilayah “tapal kuda” kita bisa lewat rute Gempol – Pandaan – Prigen – Trawas, atau bisa lewat rute Gempol – Mojosari – Trawas.

· Jika dari arah Malang kita bisa lewat rute Pandaan – Prigen – Trawas, atau lewat rute Batu – Cangar – Pacet – Trawas.